Apa yang layak kita sombongkan?

Mohon maaf berhubung kesibukan dan kemalasan ;p, blog ini tidak sempat saya update lagi.

Here’s a new one

Seorang pria yang bertamu ke rumah seorang guru tertegun keheranan. Dia melihat sang guru sedang sibuk bekerja mengangkuti air dengan ember dan menyikat lantai rumahnya keras-keras. Keringatnya bercucuran deras. Menyaksikan hal itu, orang ini bertanya: “Apa yang sedang anda lakukan?”

Sang guru menjawab: “Tadi saya kedatangan serombongan tamu yang meminta nasihat. Saya memberikan banyak nasihat yang bermanfaat bagi mereka. Mereka tampak puas sekali. Namun setelah mereka pulang tiba-tiba saya merasa menjadi orang yang hebat. Kesombongan saya mulai bermunculan. Karena itu saya melakukan ini untuk membunuh perasaan sombong saya”

Sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi kita semua, tidak peduli usia, jenis kelamin, tingkat kekayaan ataupun status sosial. Benih-benih kesombongan seringkali muncul tanpa kita sadari. Di satu pihak, sombong disebabkan oleh faktor materi (fisik). Kita merasa lebih kaya, lebih rupawan, lebih cakap, lebih lengkap dibandingkan dengan orang lain. Di pihak yang lain sombong disebabkan oleh faktor yang non materi contohnya  Kita merasa labih pintar, lebih kompeten, atau kita merasa lebih benar, lebih baik, ataupun lebih pemurah dari pada orang lain.

Anehnya kesombongan oleh faktor non materi paling sulit untuk dideteksi. Karena berbeda pendapat saja timbul anggapan orang lain lebih rendah daripada kita. Anggapan yang tanpa kita sadari merupakan benih-benih kesombongan yang bisa berkembang. Bahkan sedikit saja ada kebanggaan dalam diri kita, tandanya benih kesombongan sudah menjalari hati.

Perjuangan melawan kesombongan merupakan perjuangan menuju kesadaran sejati. Untuk berupaya melawan kesombongan dapat dengan mengubah paradigma kita.

Pertama dengan menanamkan paradigma bahwa pada hakikatnya kita bukanlah mahluk fisik, namun merupakan mahluk spiritual. Diri sejati kita adalah spiritualitas. Tubuh fisik kita? hanya wadah dan sarana untuk hidup di dunia. Kita lahir dengan tangan kosong akan mati dengan tangan kosong pula. Masih layakkah kita menyombongkan wadah kita yang hakekatnya hanya titipan dan amanah?

Kedua kita perlu menyadari bahwa apapun perbuatan baik kita, hakekatnya kita berbuat untuk kita sendiri. Dalam hidup ini berlaku Hukum Kekekalan energi (Tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, namun dapat berubah ke bentuk yang lain). Kebaikan yang kita lakukan merupakan energi yang kita lepaskan ke dunia, berputar putar, dan akan kembali kepada kita apakah dalam bentuk kesehatan, cinta kasih, rezeki kekayaan, iman, waktu luang, ataupun terhindar dari bahaya dan tersembunyinya aib kita. Jadi kalaupun kita berbuat baik kepada orang lain. Sebenarnya berbuat baik pada diri kita sendiri. Jadi layakkah kita menyombongkan perbuatan baik kita?

Jadi ketika setiap wujud dan benda fisik kita hanya merupakan titipan Allah? Sementara setiap kelebihan spiritual kita hanyalah energi yang semata akan kembali kepada kita. Apa lagi yang layak kita sombongkan?

Published in: on Mei 3, 2008 at 1:59 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags:

The URI to TrackBack this entry is: https://ramdani1428.wordpress.com/2008/05/03/apa-yang-layak-kita-sombongkan/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: