Membesarkan Ukuran Hati.

Kepada orang yang kalah kita sering menyebutnya pecundang. Tetapi,
tahukah anda siapa sesungguhnya yang benar-benar pecundang?
Sungguh, bukan mereka yang kalah. Melainkan mereka yang tidak
bersedia menerima kekalahan itu. Mereka yang menyalahkan orang lain
untuk kekalahannya sendiri. Dan mereka yang menanam kebencian atas
kekalahan yang dialaminya. Pendek kata, mereka yang tidak memiliki
kebesaran hati, untuk menerima kekalahan itu. Anda dapat menyimak
dialog ini dalam `21′; sebuah film yang berkisah tentang bagaimana
sekelompok mahasiswa cerdas di MIT membobol meja perjudian Las Vegas
dalam setiap permainan Blackjack yang diikutinya.

Film itu memberi penegasan bahwa memiliki kesadaran tentang adanya kalah dan menang dalam setiap permainan, tidaklah cukup. Bersedia untuk menerima kekalahan adalah fondasi atas semuanya itu.

Semua orang selalu tahu bagaimana caranya merayakan sebuah kemenangan. Namun, menerima kekalahan?

Tak banyak yang bisa. Bukankah demikian?

Beberapa hari yang lalu, saya menyaksikan tayangan Wild Wild Life.
Tayangan itu menceritakan tentang perilaku binatang yang kita sebut
sebagai Kukang. Nama keren Kukang adalah `Slow Loris’. Dan, seperti
yang anda ketahui; `Slow Loris’ berarti si lelet. Kukang mungkin
termasuk mahluk paling lelet dimuka bumi. Namun, hal yang sangat
menakjubkan dari Kukang adalah bagaimana mereka memiliki kebesaran
hati untuk menerima kekalahan dari pesaingnya. Menurut pendapat
anda; persaingan untuk mendapatkan seekor betina didunia binatang
itu seperti apa? Biasanya, para pejantan tangguh berkelahi satu sama
lain, bukan? Untuk sekedar menunjukkan siapa yang lebih berkuasa
diantara mereka. Yang kalah dan berdarah-darah harus menerima
kenyataan bahwa gadis pujaan hatinya jatuh kepelukan pejantan
tangguh itu. Tapi hey, itu tidak terjadi pada Kukang.

Para pejantan Kukang bersaing dengan cara yang berbeda. Tahukah
anda? Mereka berlomba kecepatan untuk berlari sampai ke garis finis.
Dan garis finisnya? Dahan dimana sang betina jelita bergelantung
menanti kedatangan sang pangeran. Dalam gerakannya yang sangat
lamban itu, Kukang berpacu. Tentu, untuk mahluk yang disebut si
lelet ukuran yang menentukan bukanlah kecepatan. Melainkan
perhitungan. Naluri. Serta kecerdikan untuk menemukan dahan dan
ranting yang akan menjadi penghubung dari satu pohon ke pohon lain
hingga mereka sampai kehadapan sang puteri. Dan. Ketika satu Kukang
jantan berhasil meraih ranting tempat sang puteri bersanding, semua
Kukang jantan lain yang ikut bertanding, menghentikan perebutannya.
Mereka tahu diri. Mempersilakan sang pemenang untuk menikmati
kehidupan penuh privasi. Tanpa darah. Tanpa kekerasan. Tanpa
hujatan. Tanpa balas dendam.

Rupanya, kita para manusia perlu belajar dari para Kukang juga.
Meskipun sesungguhnya kita tidak pernah kekurangan pelajaran dari
para orang tua kita; untuk bersikap ksatria. Sebab, para ksatria
bersedia menerima kekalahannya. Oleh karena itu, sakti saja tidaklah
memadai untuk menjadikan seseorang sebagai ksatria. Sebab, kesaktian
tidak serta merta menggambarkan kebesaran hati. Manusia – manusia
sakti yang tidak memiliki kebesaran hati tidak bisa menjadi ksatria.
Persis seperti Thai Lung. Sehingga master Oogway tidak membirakan
mahluk sakti dari jenis ini untuk memiliki mantra sakti Dragon Hero.
(berdasarkan film Kungfu Panda)


Dan itu terbukti ketika Thai Lung kalah dalam perebutan mantra suci
itu. Dia tidak menerima kekalahan itu. Alih-alih, dia mengoceh dalam
frustrasinya dengan mengatakan; “Kamu hanyalah seekor Panda gendut.
Bagaimana mungkin kamu bisa mengalahkan aku?” Dalam keadaan
sempoyonganpun dia masih merasa dirinya lebih berhak untuk
mendapatkan kemenangan itu. Dan benarlah adanya yang dikatakan
master Oogway, bahwa; kerendahan hati adalah salah satu tanda dari
seorang ksatria. Sebab, memang kerendahan hati, senantiasa
bersanding dengan kebesaran hati itu sendiri.

Orang-orang yang memiliki kebesaran hati, selalu memiliki ruang
untuk merendah. Sebab, mereka tahu bahwa dengan kerendahan hati
tidak menjadikan harga dirinya rendah. Sebaliknya jika hati terlalu
tinggi, sangat sulit bagi harga diri untuk berpijak. Bahkan, jika
hati kita terlalu tinggi; sangat sulit bagi kita untuk mengakui
bahwa orang lain memang lebih baik dari kita. Sehingga, ketika
mereka memenangkan persaingan ini; kita menjadi semakin murka.

Mungkin kita mengira bahwa jaman sudah serba berubah. Kehidupan kita
saat ini sama sekali bukan masa untuk bermimpi dengan mengharapkan
seekor panda untuk menjadi Dragon Hero. Mungkin kita juga merasa
bahwa kehidupan kita tidaklah sama dengan para Kukang. Dan. Mungkin
kita bersikeras bahwa 21 hanyalah rekaan sutradara belaka. Tetapi
hey, bukankah kehidupan nyata kita menyajikan begitu banyak fakta
bahwa kita para manusia masih suka lupa bahwa dalam setiap permainan
jarang sekali terjadi remis? Kalau pun angka imbang bertahan sampai
pertandingan usai; kita masih harus adu penalty. Sekalipun setiap
bidak dalam papan catur sudah tidak mungkin lagi saling mengalahkan;
kita harus mengulang pertandingan. Sampai kapan? Sampai ada sang
pemenang.

Kehidupan nyata kita memperlihatkan bahwa kita masih sering lupa
bahwa pada akhirnya; selalu ada kalah dan menang dalam setiap
perlombaan. Sehingga, ketika kita maju kesebuah kontes; kita sering
meninggalkan `kebesaran hati’ diruang-ruang perenungan. Sedangkan
dilapangan; kita menjadi mahluk yang berbeda. Makanya, tidak aneh
jika diarena-arena perebutan kekuasaan sering tercecer dendam. Sebab
selalu ada alasan untuk mendiskreditkan sang lawan. Dikantor-kantor
juga demikian. Betapa sering kita mendengar orang-orang berkomentar
bahwa seseorang dipromosikan hanya karena kedekatan dengan para
atasan? Agak aneh, bukan? Kita menyalahkan orang lain atas
ketidakmampuan kita untuk membangun hubungan yang produktif dengan
para atasan. Jika kita menganggap bahwa hubungan dan kedekatan
dengan para pengambil keputusan itu sangat menentukan masa depan;
mengapa kita berpura-pura tidak butuh untuk membangun hubungan
seperti itu? Dan ketika ada orang terampil yang berhasil
melakukannya, maka lidah kita cepat-cepat berkata; dasar penjilat!

Tidak bisa dipungkiri, bahwa kehidupan kita menyerupai arena penuh
persaingan. Hanya para pemenang yang layak untuk mendapatkan
hadiahnya. Dalam pertandingan itu, kadang kita menang. Kadang kita
kalah. Apa bedanya? Tidak ada bedanya. Kecuali, kalau kita lebih
suka menodai kesucian arena pertandingan kita itu dengan kepicikan,
dan kesempitan hati. Sehingga, kita tidak pernah bisa menerima
kekalahan. Namun, semua itu tidak akan terjadi jika sebelum pergi
bertanding kita sudah terlebih dahulu memiliki kebesaran hati itu.
Sebab, dengan kebesaran hati itu; kita menjadi tetap rendah hati
dikala menang; dan secara ksatria mengakui kemenangan orang lain
ketika kita mengalami kekalahan.

Jadi, dalam setiap persaingan; kita perlu mempersiapkan 2 hal.
Pertama, kemampuan teknis yang memungkinkan kita untuk menjadi
manusia unggul. Agar kita mempunyai kesempatan untuk keluar sebagai
pemenang. Merebut hadiah. Atau mendapatkan kursi jabatan. Atau
meraih kesempatan untuk dipromosikan. Dan kedua. Kebesaran hati.
Agar kita tetap memiliki kehormatan, saat mengalami kekalahan. Oleh
karena itu. Persiapan yang kita lakukan tidaklah cukup pada faktor
fisik. Teknik. Pengetahuan. Ataupun keahlian. Kita juga perlu
melakukan latihan dan persiapan; untuk membesarkan ukuran hati.

Orang-orang yang berbesar hati itu unik. Jika menang, mereka
merunduk hormat kepada lawan-lawan yang telah dikalahkan. Jika
kalah, mereka bertepuk tangan untuk kemenangan sang lawan.

All Regards to: Dadang Kadarusman
http://dkadarusman. blogspot. com/
http://www.dadangka darusman. com/

Published in: on Juni 23, 2008 at 1:48 am  Comments (1)  

Tentang Ahmadiyah

Sekarang ini ahmadiyah emang lagi naik daun, so perlu ikut dibahas di blog ini. Tapi karena kebatasan ilmu saya, saya hanya ambil dari link di bawah ini

http://newsgroups.derkeiler.com/Archive/Soc/soc.culture.indonesia/2008-06/msg00593.html

Diantaranya apa yang telah diedarkan oleh Liga Fiqih Islam (Majma’
Fiqih Islami) tentang sesatnya doktrin Ahmadiyah:

a. Ahmadiyah berkeyakinan bahwa Allah SWT itu seperti manusia, Dia
melakukan puasa, shalat, tidur, bangun, menulis, bersalah bahkan
melakukan hubungan seksual (Maha Suci Allah).

b. Ahmadiyah berkeyakinan bahwa tuhan mereka itu berkebangsaan
Inggris, yang berbicara kepada Mirza Ghulam Ahmad dengan bahasa
Inggris.

c. Ahmadiyah berkeyakinan bahwa kenabian itu belum selesai dan masih
akan ada nabi terus. Menurut mereka Allah akan mengutus nabi
berdasarkan keperluan. Dan bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah nabi yang
paling utama dan paling agung dibandingkan semua nabi yang pernah ada.

d. Ahmadiyah berkeyakinan bahwa malaikat Jibril turun kepada Mirza
Ghulam Ahmad dan memberinya wahyu. Dan ilham-ilham yang diterima Mirza
seperti Al-Qur’an.

e. Ahmadiyah berkeyakinan bahwa tidak ada Al-Qur’an kecuali yang
dibawa oleh Al-Masih yang dijanjikan kedatangannya, yaitu Mirza Ghulam
Ahmad. Tidak ada hadits kecuali apa yang diajarkan Mirza. Dan tidak
ada nabi kecuali di bawah wewenangnya.

f. Ahmadiyah berkeyakinan bahwa kitab suci mereka diturunkan dengan
nama ‘Al-Kitab Al-Mubin’, di mana yang dimaksud itu bukan Al-Qur’an.

g. Ahmadiyah berkeyakinan bahwa mereka adalah pemeluk agama yang baru
yang mandiri, dengan syariat yang independen, serta berkeyakinan bahwa
kedudukan orang-orang yang menjadi teman Mirza Ghulam Ahmad seperti
kedudukan para shahabat kepada Nabi Muhammad SAW.

h. Ahmadiyah berkeyakinan bahwa kota Qodian itu seperti Mekkah dan
Madinah, bahkan kota itu lebih suci dari keduanya. Tanah Qodian adalah
tanah suci dan kota itu menjadi kiblat mereka serta kesana pula mereka
melakukan ibadah haji.

i. Ahmadiyah berkeyakinan bahwa bahwa perintah jihad tidak pernah ada
serta mereka fanatik buta dengan keinginan penjajah Inggris. Dan bahwa
penjajah Inggris adalah tuan mereka berdasarkan nash kitab suci
mereka.

j. Ahmadiyah berkeyakinan bahwa semua pemeluk agama Islam itu kafir,
kecuali mereka yang masuk dalam Ahmadiyah. Mereka pun melarang
pengikutnya untuk menikah dengan orang lain kecuali dengan sesama
pengikut mereka sendiri.

k. Ahmadiyah berkeyakinan bahwa hukum khamar, opium, narkotika dan
benda memabukkan lainnya tidak haram.

l. Ahmadiyah berkeyakinan bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah anak tuhan.

2. Siapakah Mirza Ghulan Ahmad?

Dia lahir pada tahun 1839 di India, tepatnya di kampung Qodian,
wilayah Punjab. Dan meninggal di usia 69 tahun tepatnya pada tahun
1908. Dia lahir dari sebuah keluarga yang agak kurang baik di mata
rakyat India, bahkan dikenal sebagai keluarga pengkhinat bangsa atas
penjajahan Inggris. Latar belakang kisah berdirinya paham sesat buatan
Mirza ini memang lebih terfokus kepada proses penjajahan Inggris atas
India serta tipu daya penjajah itu dalam meredam semangat jihad
perlawanan atas penjajahan Inggris.

Inggris ingin memanfaatkan ketokohan Mirza untuk dijadikan salah satu
kaki tangan penjajah dalam rangka mengendorkan semangat perlawanan
bangsa India muslim dalam mengusir penjajah. Maka diantara doktrin
utama saat itu adalah menafikan perintah jihad. Juga mendoktrinkan
bahwa tuhan itu adalah orang Inggris dan berfirman dalam bahasa
Inggris.

Lalu dengan diback-up oleh beragam fasilitas penjajah, ajakan sesat
Mirza ini dianggap efektif untuk meredam jihad. Sehingga pada periode
berikutnya, Mirza semakin membabi buta dalam rangka mengobrak-abrik
isi aqidah Islam, sebagaimana yang sudah kami sebutkan di atas. Maka
dari hanya sekedar meredam jihad, paham sesat Mirza ini berkembang
sampai dia mengatakan bahwa dirinya adalah nabi, bahkan nabi yang
paling besar. Selanjutnya dia pun pernah menyebutkan bahwa dirinya
adalah anak tuhan. Nauzu billahi min zalik.

Tentu saja para ulama di India marah besar terhadap ajaran sesat
Mirza. Apalagi kita tahu bahwa India juga gudang para ulama besar
dunia. Mereka pun sepakat untuk menyatakan bahwa Mirza dengan segala
ajarannya itu sudah bukan muslim lagi alias kafir. Salah seorang ulama
India, Syeikh Abul Wafa’ yang juga pemimpin Jamaah Ahlul Hadits pernah
mendebatnya, menjatuhkan semua hujjahnya dan membuka kedoknya. Namun
ketika Mirza tidak bergeming dari pendirian sesatnya, beliau pun
menantangnya bermubahalah (saling berumpah agar Allah menjatuh laknat
kepada lawannya). Dan hanya berselang beberapa hari setelah mubahalah
itu, Mirza pun meninggal dunia.

3. Salah satu kepastian bahwa ajaran Mirza ini kufur dari Islam adalah
ketika mereka mengaku memiliki kiab suci sendiri selain Al-Qur’an yang
kita kenal sekarang ini. Mengingkari Al-Qur’an Al-Kariem sebagai satu-
satunya kitab suci sudah cukup untuk mengeluarkan seseorang dari
pemeluk agama Islam.

Akhirnya malam ini pemerintah mengeluarkan SKB. Tapi isinya? Yuks Tidak ada pembubaran ataupun pelarangan Ahmadiyah. Hanya disuruh berhenti melakukan kegiatan. Duh pemerintah udah mandul nih

Published in: on Juni 9, 2008 at 9:30 am  Comments (2)  

Tentang AKKBB

Nama Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) menjadi buah bibir setelah peristiwa rusuh di silang Monas pada hari ahad siang, 1 Juni 2008. Sebelumnya, aliansi ini sering kali diidentikan dengan gerakan pembelaan terhadap kelompok sesat Ahmadiyah, sebuah kelompok yang mengaku bagian dari Islam namun memiliki kitab suci Tadzkirah—bukan al-Qur’an—dan Rasul Mirza Ghulam Ahmad, bukan Rasulullah Muhammad SAW.

Jika menilik perjalanan historis dan ideologi kelompok sesat Ahmadiyah dengan AKKBB, maka akan bisa ditemukan benang merahnya, yakni permusuhan terhadap syariat Islam, pertemanan dengan kalangan Zionis, mengedepankan berbaik sangka terhadap non-Muslim dan mendahulukan kecurigaan terhadap kaum Muslimin.

Ketika Ahmadiyah lahir di India, Mirza Ghulam Ahmad mengeluarkan seruan agar umat Islam India taat dan tsiqah kepada penjajah Inggris, dan mengharamkan jihad melawan Inggris. Padahal saat itu, banyak sekali perwira-perwira tentara Inggris, para penentu kebijakannya, terdiri dari orang-orang Yahudi Inggris seperti Jenderal Allenby dan sebagainya. Dengan kata lain, seruan Ghulam Ahmad dini sesungguhnya mengusung kepentingan kaum Yahudi Inggris.

Bagaimana dengan AKKBB? Aliansi cair ini terdiri dari banyak organisasi, lembaga swadaya masyarakat, dan juga kelompok-kelompok “keagamaan”, termasuk kelompok sesat Ahmadiyah. Mereka yang tergabung dalam AKKBB adalah:

  • Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP)
  • National Integration Movement (IIM)
  • The Wahid Institute
  • Kontras
  • LBH Jakarta
  • Jaingan Islam Kampus (JIK)
  • Jaringan Islam Liberal (JIL)
  • Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF)
  • Generasi Muda Antar Iman (GMAI)
  • Institut Dian/Interfidei
  • Masyarakat Dialog Antar Agama
  • Komunitas Jatimulya
  • eLSAM
  • Lakpesdam NU
  • YLBHI
  • Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika
  • Lembaga Kajian Agama dan Jender
  • Pusaka Padang
  • Yayasan Tunas Muda Indonesia
  • Konferensi Waligereja Indonesia (KWI)
  • Crisis Center GKI
  • Persekutuan Gereja-gereeja Indonesia (PGI)
  • Forum Mahasiswa Ciputat (Formaci)
  • Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI)
  • Gerakan Ahmadiyah Indonesia
  • Tim Pembela Kebebasan Beragama
  • El Ai Em Ambon
  • Fatayat NU
  • Yayasan Ahimsa (YA) Jakarta
  • Gedong Gandhi Ashram (GGA) Bali
  • Koalisi Perempuan Indonesia
  • Dinamika Edukasi Dasar (DED) Yogya
  • Forum Persaudaraan antar Umat Beriman Yogyakarta
  • Forum Suara Hati Kebersamaan Bangsa (FSHKB) Solo
  • SHEEP Yogyakarta Indonesia
  • Forum Lintas Agama Jawa Timur Surabaya
  • Lembaga Kajian Agama dan Sosial Surabaya
  • LSM Adriani Poso
  • PRKP Poso
  • Komunitas Gereja Damai
  • Komunitas Gereja Sukapura
  • GAKTANA
  • Wahana Kebangsaan
  • Yayasan Tifa
  • Komunitas Penghayat
  • Forum Mahasiswa Syariahse-Indonesia NTB
  • Relawan untuk Demokrasi dan Hak Asasi Manusia (REDHAM) Lombok
  • Forum Komunikasi Lintas Agama Gorontalo
  • Crisis Center SAG Manado
  • LK3 Banjarmasin
  • Forum Dialog Antar Kita (FORLOG-Antar Kita) Sulsel Makassar
  • Jaringan Antar Iman se-Sulawesi
  • Forum Dialog Kalimantan Selatan (FORLOG Kalsel) Banjarmasin
  • PERCIK Salatiga
  • Sumatera Cultural Institut Medan
  • Muslim Institut Medan
  • PUSHAM UII Yogyakarta
  • Swabine Yasmine Flores-Ende
  • Komunitas Peradaban Aceh
  • Yayasan Jurnal Perempuan
  • AJI Damai Yogyakarta
  • Ashram Gandhi Puri Bali
  • Gerakan Nurani Ibu
  • Rumah Indonesia

Menurut data yang ada, AKKBB merupakan aliansi cair dari 64 organisasi, kelompok, dan lembaga swadaya masyarakat. Banyak, memang. Tapi kebanyakan merupakan organisasi ‘ladang tadah hujan’ yang bersifat insidental dan aktivitasnya tergantung ada ‘curah hujan’ atau tidak. Maksudnya, kelompok atau organisasi yang hanya dimaksudkan untuk menampung donasi dari sponsor asing, dan hanya bergerak jika ada dana keras yang tersedia.

Namun ada beberapa yang memang memiliki ideologi yang jelas dan bergerak di akar rumput. Walau demikian, yang terkenal hanya ada beberapa dan inilah yang menjadi motor penggerak utama dari aliansi besar ini.

Keseluruhan organisasi dan kelompok ini sebenarnya bisa disatukan dalam satu kata, yakni: Amerika. Kita tentu paham, Amerika adalah gudang dari isme-isme yang “aneh-aneh” seperti gerakan liberal, gerakan feminisme, HAM, Demokrasi, dan sebagainya. Ini tentu dalam tataran ide atau Das Sollen kata orang Jerman.

Namun dalam tataran faktual, yang terjadi di lapangan ternyata sebaliknya. Kalangan intelektual dunia paham bahwa negara yang paling anti demokrasi di dunia adalah Amerika, negara yang paling banyak melanggar HAM adalah Amerika, negara yang merestui pasangan gay dan lesbian menikah (di gereja pula!) atas nama liberalisme adalah Amerika, dan sebagainya. Dan kita tentu juga paham, ada satu istilah yang bisa menghimpun semua kebobrokkan Amerika sekarang ini: ZIONISME.

Bukan kebetulan jika banyak tokoh-tokoh AKKBB merupakan orang-orang yang merelakan dirinya menjadi pelayan kepentingan Zionisme Internasional. Sebut saja Abdurrahman Wahid, ikon Ghoyim Zionis Indonesia. Lalu ada Ulil Abshar Abdala dan kawan-kawannya di JIL, lalu Goenawan Muhammad yang pada tahun 2006 menerima penghargaan Dan David Prize dan uang kontan senilai US$ 250, 000 di Tel Aviv (source: indolink.com), dan sejenisnya. Tidak terhitung berapa banyak anggota AKKBB yang telah mengunjungi Israel sambil menghujat gerakan Islam Indonesia di depan orang-orang Ziuonis Yahudi di sana.

Mereka ini memang bergerak dengan mengusung wacana demokrasi, HAM, anti kekerasan, pluralitas, keberagaman, dan sebagainya. Sesuatu yang absurd sesungguhnya karena donatur utama mereka, Amerika, terang-terangan menginjak-injak prinsip-prinsip ini di berbagai belahan dunia seperti di Palestina, Irak, Afghanistan, dan sebagainya.

Jelas, bukan sesuatu yang aneh jika kelompok seperti ini membela Ahmadiyah. Karena Ahmadiyah memang bagian dari mereka, bagian dari upaya pengrusakkan dan penghancuran agama Allah di muka bumi ini.

Bagi yang ingin mengetahui ideologi aliansi ini maka silakan mengklik situs-situs kelompok mereka seperti libforall.com, Islamlib.com. dan lainnya.

Walau demikian, tidak semua simpatisan maupun anggota AKKBB yang sebenarnya menyadari ‘The Hidden Agenda’ di balik AKKBB, karena agenda besar ini hanya diketahui oleh pucuk-pucuk pimpinan aliansi ini, sedangkan simpatisan maupun anggota di tingkat akar rumput kebanyakan hanya terikat secara emosionil kepada pimpinannya dan tidak berdasarkan pemahaman dan ilmu yang cukup.

Published in: on Juni 9, 2008 at 9:29 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Dongeng Pohon Ara dan Batu

Alkisah pada suatu saat di sebuah negeri di timur tengah sana. Seorang saudagar yang sangat kaya raya tengah mengadakan perjalanan bersama kafilahnya. Diantara debu dan bebatuan, derik kereta diselingi dengus kuda terdengar bergantian. Sesekali terdengar lecutan cambuk sais di udara. Tepat di tengah rombongan itu tampaklah pria berjanggut, berkain panjang dan bersorban ditemani seorang anak usia belasan tahun. Kedua berpakaian indah menawan. Dialah Sang Saudagar bersama anak semata wayang nya. Mereka duduk pada sebuah kereta yang mewah berhiaskan kayu gofir dan permata yaspis. Semerbak harum bau mur tersebar dimana-mana. Sungguh kereta yang mahal.


Iring-iringan barang, orang dan hewan yang panjang itu berjalan perlahan, dalam kawalan ketat para pengawal.Rombongan itu bergerak terus hingga pada suatu saat mereka berada di sebuah tanah lapang berpasir. Bebatuan tampak diletakkan teratur di beberapa tempat. Pemandangan ini menarik bagi sang anak sehingga ia merasa perlu untuk bertanya pada ayahnya.


“Bapa, mengapa tampak oleh ku bebatuan dengan teratur tersebar di sekitar daerah ini. Apakah gerangan semua itu ?”.


“Baik pengamatan mu, anak ku”, jawab Ayahnya,”bagi orang biasa itu hanyalah batu, tetapi bagi mereka yang memiliki hikmat, semua itu akan tampak berbeda”.


“Apakah yang dilihat oleh kaum cerdik cendikia itu, Bapa ?”, tanya anaknya kembali.


“Mereka akan melihat itu sebagai mutiara hikmat yang tersebar, memang hikmat berseru-seru dipinggir jalan, mengundang orang untuk singgah, tetapi sedikit dari kita yang menggubris ajakan itu.”.


“Apakah Bapa akan menjelaskan perkara itu pada ku?”


“Tentu buah hatiku”, sahut Sang Saudagar sambil mengelus kepala anaknya.


“Dahulu, ketika aku masih belia, hal ini pun menjadi pertanyaan di hati ku. Dan kakek mu, menerangkan perkara yang sama, seperti saat ini aku menjelaskan kepadamu. Pandanglah batu-batu itu dengan seksama. Di balik batu itu ada sebuah kehidupan. Masing-masing batu yang tampak oleh mu sebenarnya sedang menindih sebuah biji pohon ara.”


“Tidakkah benih pohon ara itu akan mati karena tertindih batu sebesar itu Bapa ?”


“Tidak anak ku. Sepintas lalu memang batu itu tampak sebagai beban yang akan mematikan benih pohon ara. Tetapi justru batu yang besar itulah yang membuat pohon ara itu sanggup bertahan hidup dan berkembang sebesar yang kau lihat di tepi jalan kemarin”.
“Bilakah hal itu terjadi Bapa ?”


“Batu yang besar itu sengaja diletakkan oleh penanamnya menindih benih pohon ara. Mereka melakukan itu sehingga benih itu tersembunyi terhadap hembusan angin dan dari mata segala hewan. Samapai beberapa waktu kemudian benih itu akan berakar, semakin banyak dan semakin kuat. Walau tidak tampak kehidupan di atas permukaannya, tetapi dibawah, akarnya terus menjalar. Setelah dirasa cukup barulah tunas nya akan muncul perlahan. Pohon ara itu akan tumbuh semakin besar dan kuat hingga akhirnya akan sanggup menggulingkan batu yang menindihnya. Demikianlah pohon ara itu hidup. Dan hampir di setiap pohon ara akan kau temui, sebuah batu, seolah menjadi peringatan bahwa batu yang pernah menindih benih pohon ara itu tidak akan membinasakannya. Selanjutnya benih itu menjadi pohon besar yang mampu menaungi segala mahluk yang berlindung dari terik matahari yang membakar.”


“Apakah itu semua tentang kehidupan ini Bapa ?”, tanya anaknya.


Sang Saudagar menatap anaknya lekat-lekat sambil tersenyum, kemudian meneruskan penjelasannya.


“Benar anak ku. Jika suatu saat engkau di dalam masa-masa hidupmu, merasakan terhimpit suatu beban yang sangat berat ingatlah pelajaran tentang batu dan pohon ara itu. Segala kesulitan yang menindihmu, sebenarnya merupakan sebuah kesempatan bagi mu untuk berakar, semakin kuat, bertumbuh dan akhirnya tampil sebagai pemenang. Camkanlah, belum ada hingga saat ini benih pohon ara yang tertindih mati oleh bebatuan itu. Jadi jika benih pohon ara yang demikian kecil saja diberikan kekuatan oleh Sang Khalik untuk dapat menyingkirkan batu diatasnya, bagaimana dengan kita ini. Dzat Yang Maha Perkasa itu bahkan sudah menanamkan keilahian-Nya pada diri-diri kita. Dan menjadikan kita, manusia ini jauh melebihi segala mahluk dimuka bumi ini. Perhatikanlah kata-kata ini anak ku. Pahatkan pada loh-loh batu hatimu, sehingga engkau menjadi bijak dan tidak dipermainkan oleh hidup ini. Karena memang kita ditakdirkan menjadi tuan atas hidup kita.”

Published in: on Juni 9, 2008 at 4:11 am  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: