Ketika Allah berkata tidak 2

Ya Allah, tolong singkirkan penderitaan hidupku ini, aku lelah hidup dalam penderitaan.

Tidak, penderitaanmu bukan untuk Aku singkirkan tetapi untuk kau hadapi.

Apakah kamu tidak malu dengan rajawali?

Rajawali punya indra yang digunakan untuk mendeteksi kapan badai akan datang, jika badai makin jelas kedatangannya ia segera merentangkan sayapnya sedemikian rupa sehingga angin dahsyat yang datang itu mengangkat anggun tubuh rajawali itu membumbung tinggi di atas badai.

Sementara badai menerbangkan apa saja, menghancurkan apa saja, memporak porandakan apa saja yang di terpanya, sang Rajawali mengamati dengan tenang dari atas badai. Ia jadi pengendara badai. Ia menunggangi badai.Ia ada diatas badai. Sayapnya yang di latih telah membuatnya terangkat.

Sementara kamu, kamu itu kan manusia, jangankan indra untuk mendeteksi datangnya badai, bahkan penangkal badainya pun Aku berikan, tapi kenapa kamu tidak latih, malah kebalikan, hari-harimu kamu habiskan untuk menciptakan badai kehidupan, kamu yang mencipta, kamu juga yang bisa menangkal dan kamu juga yang bisa mendeteksi kedatangannya. Alatnya adalah pikiranmu, melatihnya dengan menjalankan kehidupan dan menerimanya, apapun kondisi kehidupan.

 

Kalau begitu, sempurnakan kekurangan dan keterbatasan tubuhku, biar diriku kebal dengan penderitaan.

Tidak. Kesempurnaan ada pada jiwamu bukan pada tubuhmu. Tubuhmu hanya sementara. Kamu ingat sebatang pensil yang kau gunakan untuk menulis? Bagian yang terpenting dari sebatang pensil itu adalah bagian yang terdalamnya, itulah kenapa kamu perlu merautnya, menguliti batang luarnya, agar isinya tampak. Tapi juga bukan berarti kamu bebas untuk menyia-nyiakan tubuhmu, bagian luarmu. Karena bagian luarmu yang saat ini menjadi salah satu identitasmu adalah bungkus yang pas bagi jiwamu.betapapun terbatasnya. Bekerja samalah dengan jiwamu untuk mencapai kesempurnaan abadi yang tak terbatas.

 

Kalau begitu hadiahkanlah padaku Kesabaran para nabi padaku, hingga aku setidaknya bisa seperti Nabi Ayub as.

Tidak. Aku tidak akan hadiahkan itu Kesabaran itu buah dari proses. Kesabaran bukan dihadiahkan, juga bukan dipelajari. Kesabaran itu adalah isi pensil yang menjadi tajam setelah di raut. Rautan itu menyakitkan, ia menyayat-nyayat diri kita.Ia menguliti, perih rasanya, tapi itu tidak menghalangi pensil untuk tetap menerima rautan itu, karena ia rindu buahnya, keruncingannya, ketajamannya, yang kemudian ia akan merasa berguna atas kehadirian dirinya karena ada garis-garis yang bisa ditorehkan dengan indah.

Yang sering kamu pelajari tentang kesabaran itu adalah teori kesabaran, dan itu berbeda dengan kesabaran itu sendiri. Kamu tidak mungkin bisa mewarisi kesabaran Ayub kalau yang kamu pelajari adalah sejarah, cerita atau riwayat Ayub. Kamu harus menjadi Ayub di jamanmu. Telanlah kepahitan, karena dengan kepahitan itu kamu mendapat kebenaran hakiki, kebenaran di tingkat rasa, yang tak terukur dengan kata-kata. Guru-gurumu boleh bercerita tentang orang-orang sabar yang ada dimuka bumi. Atau memberikan trik dan tips untuk menjadi sabar, tapi belum tentu ia memilikinya, karena bergantung bagaimana gurumu memandang kehidupan ini.

Sementara kamu yang hanya seorang murid, demikian mungkin kamu dan orang-orang menyebutnya—akan menjadi Ayub, dan orang-orang suci lainnya ketika kamu mesra degan kehidupan, apapun kondisinya.

 

Kalau begitu langsung saja berikan aku kebahagiaan

Tidak akan. Kebahagiaan itu bergantung lagi dengan dirimu. Kalau kamu sungguh-sungguh mengerti akan hidup sebagai berkah, maka setiap saat kebahagiaan menyertai kamu. Selalu. Hingga kamu akan menyebut Senin, hari yang menakjubkan, Selasa hari yang indah, Rabu hari sempurna, Kamis hari penuh cinta, Jumat hari yang penuh keajaiban, Sabtu hari yang mengesankan, Minggu hari yang penuh dengan kedamaian.

Ciptakanlah kebahagiaanmu bahkan mungkin tanpa alasan apapun. Kenapa kamu jadi sulit sekali untuk berbahagia. Kenapa kamu membatasi kebahagiaan dalam pikiran-pikiranmu yang terkotak-kotak. Terkotak dengan benda-benda, terkotak dengan kepemilikian, terkotak dengan relasi ilusi. Cobalah tersenyum, ayo sedikit saja, tersenyumlah, nah begitulah, teruskan, tahan senyummu, sadari senyummu, rasakan emosinya.Bagus!

Hambaku, kamu harus menumbuhkan ruhmu sendiri, tapi penting untuk kamu ingat bahwa tiap kali mulai tumbuh, Aku akan segera memangkas batangmu hingga kamu berbuah, dan kalau sudah berbuah pastikan kamu adalah pohon yang sempurna, pohon yang sempurna adalah tidak memakan buah yang tumbuh dari dirinya, ia biarkan buahnya jatuh dan dinikmati orang yang lalu lalang, bahkan hewan-hewan pun ikut riang.

Begitulah ruh yang tumbuh dan berbuah. Buatmu yang telah berbuah ruhnya, tidak membutuhkan lagi waktu untuk menikmati kehidupan, karena hidup itu sendiri adalah saat dimana kamu bisa menikmati kehidupan. Tahu kan kamu bedanya? Banyak temanmu yang ngotot meminta segala hal agar bisa menikmati kehidupan, tetapi ketika segala hal itu dimilikinya ia tidak dapat menikmatinya, karena ia tidak lagi hidup.

 

Terima kasih Tuhan Rabbul ‘alamin. Aku hanya akan mengasihi apa saja dan siapa saja. Ini segalanya bagiku.

Akhirnya kamu mengerti juga.

 

Catatan: Ini hanya rekaan manusia yang mencoba untuk mengambil hikmah dari segala apa yang diberikan Allah

Published in: on Juli 30, 2008 at 7:47 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

The URI to TrackBack this entry is: https://ramdani1428.wordpress.com/2008/07/30/ketika-allah-berkata-tidak-2/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: